June 27, 2006
Dan sampai’lah kita pada satu titik di mana KITA tak cukup ada
Terseret dalam suatu ke’bimbangan yang bersandar pada ke’nyamanan
Tanpa daya oleh candu’nya.. yang tumbuh perlahan dari secuil ke’nikmatan
Ber’ujung suatu ke’gelisahan yang terpuas’kan oleh pengorbanan
Bagi kita, penikmat cinta..
Kan mempunyai beratus-ratus kata tuk hadir’nya
Beratus-ratus kata pula tuk makian akan sakit’nya
Beratus-ratus alasan demi pengorbanan yang di persembah’kan
Juga beratus-ratus ke’pedihan pada akhir’nya !
Karena harap dan ke’khawatiran tak terhirau’kan
Tak terbalas’kan rindu yang serupa
Malah ter’kekang dalam jebakan sumpah
Lalu mematikan’nya dalam rasa keutuhan !
Mana yang kau pilih..
Nalar’mu atau yang terkasih ?
Saat engkau di elukan karena memiliki
Dalam rasa ke’terikatan akan ke’setiaan karena dimiliki ?
Ditangisi pula’kah jiwa’mu saat dia beranjak pergi ?
Gejolak bercinta’mu dihujani sejuta panik
Tak sanggup kau tolak lagi, tapi malah kau nikmati
Lalu di butakan’nya mata dan hati dari harap yang tak kunjung bertepi
Sekedar ingin memiliki.. namun seringnya belum tentu dimiliki
Dan di haruskan’nya kita untuk memilih
Pilihan yang sudah terpilih.. dan dipilih’kan kembali
Tentang kebenaran yang tercampur dengan pembenaran
Untuk masuk dan terlibat peran dalam status yang membosankan
Tapi itulah refleksi dari pembodohan cinta
Gejolak yang tak tertahan’kan
Emosi sesaat yang bisa mengindahkan segalanya
Tak cukup itu saja.. bahkan bisa meluluhlantahkan
Cinta..
Seharunya menjadi sandaran bagi insan-insan yang kelelahan
Dan buaian bagi mereka yang memimpi’kan ke’utuh’an
Hiburan sesaat yang
kan
mematikan’nya perlahan
Pada harap yang keterlaluan tapi tanpa raga dalam mewujudkan
Kan tetap tersenyum’kah mereka saat tak lagi berpasangan ?
Lambat laun.. mereka akan terlalu takut untuk mencinta
Terlalu takut karena nanti akan harus mengakhirinya
Kalaupun kekal..
Sebaiknya sesuatu final yang bukan fatal
KITA.. apakah para penikmat cinta ?
Sekalipun (cukup) mengerti tentang arti dari kata “PEMBODOHAN !”
PS: Re, August 2002
Sedaang kesal bercinta, sedang takut bercinta, dan sedang maraah melihat orang bercinta
Aku bisa apa… Saat kau terlalu jauh untuk di’cinta
Saat terlalu banyak yang menggilaimu juga memuja
Saat tak bisa berteriak kalau ku ada
Dan aku bisa apa…
Saat ku terlalu takut jika kau tak lagi dekat
Saat ku mulai menyandu’mu tuk puaskan rinduku yang sangat
Saat ku mulai terbiasa dengan pelukmu yang hangat
Salah’kah aku yang mengangguk’kan sebuah kesanggupan
Kesanggupan tuk membagimu dalam sebuah kebersamaan
Kebersamaan yang kadang sudah keterlaluan
Karena membawamu tak berdekatan..
Padahal kita sedang bermesraan !
Cinta, angan, dan kebersamaan yang kau tawarkan
Juga kisah diam-diam yang harus rapi ku simpan
Tapi maaf saja..
Kalau menjadi yang terpilih,
Kadang malah sering tak mengenak’kan
Seringnya mengalah untuk pembenaran’mu..
Terkadang berasa timpang!
Dan kesalahan demi kesalahan lalu yang ku buat
Hanya karena ingin lebih merasakan kau dekat
Sekedar mengaku.. Kalau aku perempuan’mu..
Membuatku smakin ketakutan!
Cemas yang sangat saat kau tak kunjung pulang
Ragu yang bertumpuk saat terlalu banyak sepi yang datang
Dan tak adanya kamu..
Saat ku ingin bercumbu atau sekedar bersentuhan
Semoga lekas kau dengar..
Tentang ketakutan’ku yang semoga tak kurasa’kan sendirian
Tentang tenggelam’nya aku dalam cinta’mu yang sangat besar
Juga harap dalam kebersamaan yang tak sebentar
Semoga dalam kelelahan pun setia’mu tak pudar
Agar ku bertahan tuk mencintaimu dengan benar!
- Re, March 2005 -
June 26, 2006
Ssstt…
Sudah, berhenti membicarakan’nya
Yang ku suka itu kamu… bukan dia
Yang ku tunggu itu sapa’mu.. bukan telfon’nya
Tapi kau malah sibuk mengantarkannya
Cukuup…
Tak perlu lagi bawakan bunga darinya
Tak perlu lagi resah karena kau juga sama merasa
Kenapa tak kau bawa saja dirimu dan ungkapkan cinta
Yang ku mau itu kamu, BUKAN DIA!
Ssttt..
Sudaah, tak usah pedulikan dia
Cepat dataang padaku segera..
Sebelum teman’mu semakin merana karena mimpinya
Re, 12 Februari 2005
(Sore, di Mc. D PasKal)
Sudah berapa kata yang dia ucap
Coba yakin’kan aku tentang cinta’nya yang dalam
Apa perlu dia ungkap ?
Sedang’kan aku hanya mampir saja
Tampan.. elok juga ku puja
Ku coba lagi menatap.. coba pula ku perhatikan
Sempurna.. tak ada yang salah dengan diri’nya
Cukup menggoda tuk disapa
Uhm.. apalagi yang ku risau’kan
Selain anggukan meng’iya
Toh dia pasti sudah sangat menunggu’nya
Dan seribu sumpah cinta setia pun sudah tentu dijanjikan’nya!
Kita, atau Kau saja yang merasa ?
Aku hanya sekedar singgah
Salah’kah juga bila ku tergoda
Kau sedang mencipta rasa sedang’kan aku tidak
Sudah’lah sayaang..
Ini sekedar permainan
Maaf saja kalau nanti kau ku tinggalkan!
- Re, January’04 -
Harus ku apa’kan dia..
Kalau ku sudah tak punya cinta
Kalau habis rasa memuja
Dan tak bersisa kerinduan tuk bersama
Harus ku apa’kan dia..
Tangis’nya memaksa’ku bertahan
Sedang’kan setumpuk kebohongan sudah ku utara’kan
Sembari mem’budak’nya perlahan
Uuffgghhh… Aku hanya ingin jauh ke
sana
Tak perlu kau ada dan menanti’ku pulang
Tak perlu juga berharap..
Ku sudah terlalu ingin mengakhiri semua
Maaf.. Sebaik’nya kita putus saja !
Re, September 2004
Terimakasih, untuk masih di sini
Untuk cinta juga mimpi
Untuk tangis juga kasih
Juga sepi yang kadang berbisik lirih
Terimakasih..
Masih menemani meski nanti
kan
pergi
Masih berceloteh janji meski nanti tak nyaring lagi
Masih menggenggam meski terlepas nanti
Terimakasih..
Untuk datang kembali
Untuk masih mengagumi atau malah membenci
Juga sedih yang mungkin masih perih
Semua
kan
pasti warnai hari
Terimakasih..
Untuk lelaki-lelaki terindah kemarin..
Re, December 2004
Cinta ?
Mencintai’mu atau tidak..
Yang jelas ku ingin memeluk’mu setiap saat dan erat!
Merindu’mu atau tidak..
Yang jelas ku ingin slalu kau ada!
Entah kekasih’mu atau bukan..
Nikmati saja senang dan lara bersama!
Tetap ada..
Dan saling memuja
Biarkan kita lelah dalam menebak cinta!
- Re, October 2004 -
Sudah larut..
Kau juga belum pulang untuk’ku ?
Sudah hampir Subuh..
Kau juga belum menjemput’ku ?
Ada
banyak rindu untuk’mu
Ada
setumpuk peluk untuk’mu
Ada
seratus harap tentang senyum’mu
Ada
sejuta tangis tuk pergi’mu
Mari sini..
Kita berbincang cinta sampai pagi
Kita berpeluk’kan sampai esok hari
Kita sedikit bermimpi tentang nanti
Sudah.. tak usah pergi..
Agar ku tak menangis lagi
Re, October 2004
Subuh itu,
Kalau kamu mau tahu..
Ku sudah mulai mengharap’mu dari waktu itu
Dari sekedar menatapmu
Mencermati setiap gerak-gerikmu
Sampai menghirup aroma wangi tubuh’mu
Ku berani’kan pula tuk merindu’mu..
Malah kini ku sedang memuja’mu
Ragu rasanya kalau kau juga merindu’ku
Wong nama’ku saja sampeyan ndak tau!
Maklum..
Pertemuan pertama itu terlalu cepat di’kontrak waktu
Mencoba terus menarik perhatianmu
Malu-malu.. ku semakin mendekatimu
Kesal dan kikuk saat mengharap senyum mahal’mu
Sampai-sampai ku lupa sesuatu
Uups,perempuanmu masih berdiri di belakangmu
Ooaallaaahhh… Cah bagus
Sayangnya rencana itu tidak berjalan mulus
Kau malah beranjak menjauh
Pergi, meninggalkanku di suatu subuh
PS:
Satu subuh Di Kampus FASA UNPAD, Aula PSBJ Jatinangor Tercinta
PERSADA 2001, Mengenang Seorang Senior yang Judesnya Na’Udzubilaah..
( Can’t stop thinking of him, D A M N! )
June 14, 2006
KAU.. DENGAN KEPINGAN DIRIMU YANG TAK PERNAH UTUH
AKU.. DENGAN SEGALA TAKUT DAN RAGU YANG SEMAKIN PENUH
DAN WAKTU.. MAHAL SEKALI RASANYA TUK SEKEDAR MENIKMATIMU
KAU, AKU, DAN WAKTU..
UUFFGH, IYAKAH KITA KAN MENYATU ???
- Gedung C, FASA UNPAD JATINANGOR.. 20/03/2002 -