Dan sampai’lah kita pada satu titik di mana KITA tak cukup ada
Terseret dalam suatu ke’bimbangan yang bersandar pada ke’nyamanan
Tanpa daya oleh candu’nya.. yang tumbuh perlahan dari secuil ke’nikmatan
Ber’ujung suatu ke’gelisahan yang terpuas’kan oleh pengorbanan
Bagi kita, penikmat cinta..
Kan mempunyai beratus-ratus kata tuk hadir’nya
Beratus-ratus kata pula tuk makian akan sakit’nya
Beratus-ratus alasan demi pengorbanan yang di persembah’kan
Juga beratus-ratus ke’pedihan pada akhir’nya !
Karena harap dan ke’khawatiran tak terhirau’kan
Tak terbalas’kan rindu yang serupa
Malah ter’kekang dalam jebakan sumpah
Lalu mematikan’nya dalam rasa keutuhan !
Mana yang kau pilih..
Nalar’mu atau yang terkasih ?
Saat engkau di elukan karena memiliki
Dalam rasa ke’terikatan akan ke’setiaan karena dimiliki ?
Ditangisi pula’kah jiwa’mu saat dia beranjak pergi ?
Gejolak bercinta’mu dihujani sejuta panik
Tak sanggup kau tolak lagi, tapi malah kau nikmati
Lalu di butakan’nya mata dan hati dari harap yang tak kunjung bertepi
Sekedar ingin memiliki.. namun seringnya belum tentu dimiliki
Dan di haruskan’nya kita untuk memilih
Pilihan yang sudah terpilih.. dan dipilih’kan kembali
Tentang kebenaran yang tercampur dengan pembenaran
Untuk masuk dan terlibat peran dalam status yang membosankan
Tapi itulah refleksi dari pembodohan cinta
Gejolak yang tak tertahan’kan
Emosi sesaat yang bisa mengindahkan segalanya
Tak cukup itu saja.. bahkan bisa meluluhlantahkan
Cinta..
Seharunya menjadi sandaran bagi insan-insan yang kelelahan
Dan buaian bagi mereka yang memimpi’kan ke’utuh’an
Hiburan sesaat yang
kan
Pada harap yang keterlaluan tapi tanpa raga dalam mewujudkan
Kan tetap tersenyum’kah mereka saat tak lagi berpasangan ?
Lambat laun.. mereka akan terlalu takut untuk mencinta
Terlalu takut karena nanti akan harus mengakhirinya
Kalaupun kekal..
Sebaiknya sesuatu final yang bukan fatal
KITA.. apakah para penikmat cinta ?
Sekalipun (cukup) mengerti tentang arti dari kata “PEMBODOHAN !”
PS: Re, August 2002
Sedaang kesal bercinta, sedang takut bercinta, dan sedang maraah melihat orang bercinta

We don’t believe in love
We never have, We never will
We’ll just pretend they never real
We need to forget their face, We see it still
It’s never worth the pain that we feel
Comment by The Key — June 27, 2006 @ 1:23 pm
tak ada yang salah dengan cinta, hanya ada tawa dan airmata.
biarkan ia memberi cerita kepada hidupmu….kamu cantik….itu adalah cinta Tuhan yang tak terhingga..tersenyumlah…akan selalu ada cinta dalam mata indahmu….
Comment by djim — June 28, 2006 @ 7:23 am
Orang yang berusaha untuk menafsirkan apa itu cinta, atau bahkan mencoba untuk menghujatnya, pada dasarnya adalah orang yang sudah pernah atau sedang bercengkrama dengan cinta.
Bahkan dari jaman adam, tanpa ada riset sekalipun, sudah jadi rahasia umum bahwa cinta akan selalu jadi “sesuatu” yang berbeda pada setiap insan.
Cinta layaknya bunglon, yang bisa saja dilihat begitu “jahanam” bagi satu insan, atau bahkan kadang terlihat layaknya “malaikat” bagi insan lainnya.
Tapi yang pasti, bahwa alam ada, dan masih tetap ada hingga saat ini berkat “cinta” Sang Maha Pencipta
Comment by aD — July 1, 2006 @ 10:27 am