saya dan ibu mempunyai satu kegemaran dalam menikmati malam, kami sama-sama gemar menikmati segelas ice cream (any flavour, tapi ngga banget untuk durian, duuh, aromanya itu lhoo, wueneek banget dah!) plus tape ketan hitam sebagai topingnya.. dua benda yang krusial, selain telur ayam tentunya, yang selalu ada di lemari pendingin kami di rumah
biasanya siih ngga tau batas jam untuk menikmatinya, hajaaar aja kalo lg pengen maah, uhmm, ngga bagus siih buat program diet kita bedua, tapiii, apa dayaa, tergoda juga…
tiga malam kemarin, ibu tidak menemani saya menyantap ice cream 3 rasa lengkap dengan tape ketan hitam yg enaak, ibu sudah cukup kelelahan sepertinya.. saya menikmatinya sendirian di kamar atas, kamar bawah lg dipake kakak laki-laki semata wayang saya, kebetulan ia sedang berkunjung dari Batam.. namanya Heru, mas heru, tapi lebih sering saya panggil dengan Si Bo! hehehe, panggilan kesayangan yang aneh bukaan… bukaan!
sembari menyeruput ice cream yg sudah leleh dalam gelas biru, saya meraih sebuah foto lama saya dengan mas heru, uhm, kalo tidak salah siih foto itu diambil saat saya masih duduk di TK dulu.. sesuatu yang menarik mulai muncul.. sederet kenangan yg rata-rata ngga manis dan indah, tapii cenderung lucu, mulai teringat satu-persatu..
saya dan mas heru terpaut usia 5 tahun, mungkin itu yang menyebabkan masa kecil kami tidak begitu dekat dan akur.. dia selalu sibuk menghabiskan siang’nya bersama teman-temannya, dan pulang saat sore menjelang, karena takut dimarahin ibu dan bapaak kalo maghrib belum ada di rumaah.. ada saja akalnya untuk menggoda saya, ejekan-ejekan cengeng laah, disuruh jadi kiper dadakan laah (secara gw masih 5 tauun gitu bo, dan tendangan bolanya kadang menyeraang tanpa ampun.. heeeuh,termasuk kekerasan dlm rumah tangga bukan yaa, sungguh, belum ada suatu keberanian untuk menolak atau membalas semua tindakannya pada saat itu!), sampai di suruh diaam di dalam kamar dan ngga boleh keluar sebelum beberapa temannya (laki-laki semua) yang sedang bermain nintendo di rumah, pulaang.. duuuh, jahaatnya!
foto lama itu juga membuat saya terharu ternyata, sekarang, kami berdua sudah sama-sama besar.. sama-sama suka hunting buku bacaan, sama-sama doyan olah raga rahang, terlebih lagi, bandung memang tempat wisata kuliner yang wuenaaak tenaan!.. kami juga sama-sama suka bercerita, apa saajaaa, meskipun seringnya saya yang berceloteh dan dia lebih banyak mendengarkan.. saat saya mengeluh, curhat, atau beropini seenak udelnya, solusi yang ia berikan pasti dalam pertanyaan.. "uuuhmm, kira-kira gimana enaknya".. "kamu kan dah gede, masa gitu aja mesti nanyaa.. coba, baiknya gimaana".. "aku itu sebatas ngedengeriin, yg ngambil keputusan itu tetep kamu, wong yg ngejalanin hidup itu kamuu"..
sempat kesal juga siih, bertanya bagaimana malah dijawab dengan pertanyaan pulaa, tapi dibalik itu semua, mas heru baik sekali ternyata, dia sedang mengajak saya untuk selalu mau menganalisa sebelum mengambil sebuah keputusan.. sedang mengajari saya apa arti sebuah kesabaran, dan mendidik saya untuk berani menerima segala konsekuensi atas segala yang saya putuskan.. dia sedang mengajari saya untuk berani hidup, dengan cara yang ngga "grusah-grusuh"..
dia selalu siap mendengarkan dan membiarkan saya menjadi apa adanya, mau siang, pagi buta, atau larut malaam.. iyyaaa, ngga heran tagihan telepon rumah membengkak karena kami berdua, kalau sudah begitu, biasanya bapaak mengambil tindakan, tidak memblokir telepon siih, tapii, mulai mengawasi saat kami ber ‘SLJJ’ ria.. "Adeek, ayooo, tutup telponnya, dah 20 meniit ki, ntar tagihan tinggi lagi" .. alhasil obrolan kami mesti disambung lagi keesokan hari..
ia memang benar-benar mau mendengar apa saja, mulai dari opini-opini saya tentang pemberontakan adat, dari kajian-kajian feminis yang saya pelajari dan itu menjadi sesuatu yang kontroversial, sampai ke nasib percintaan kami berdua yang kandas di tengah jalaan.. dia masih saja mendengarkan, layaknya dalam sebuah forum diskusi yang hanya dimengerti kami berdua.. waaah, rasa-rasanya, kalau dia sedang di bandung, saya sepertinya tak membutuhkan yang "lainnya".. cukuplah sudah ada keluarga yang tersayang, kakak yg selalu baik dan perhatian, sahabat-sahabat terbaik yang masih selalu bersama, duuh, hidup benar-benar indaah!
pesan mas heru hanya satu, jangan sampai ada yang terganggu atas segala tindakan kita, karena hidup itu ngga sendirian, karena kita juga punya agama! dia selalu wanti-wanti untuk sabaar, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri juga, karena lebih baik hidup itu dilewati dengan masa proses "coba-mecoba", agar kesalahan demi kesalahan dapat dipahami dan menjadi sebuah pengalaman.
terkadang saya merasa bahwa banyak sekali waktu yang hilaang, kemana dia saat saya masih SMP-SMU’an, dimana saya saat dia sedang mulai bercinta-cintaan.. tak apalaah, saya merasa beruntung karena masih diberi kesempatan menebus waktu-waku yang hilang itu sekarang!
terimakasiih, untuk semua kenangan-kenangan yang terbaik, semoga Allah merahmati Si Bo! dengan segala kasiih, walaupun ada sebuah gengsi, tapi harus saya akui, bahwa saya sangat membutuhkan mas heru dalam setiap sisi.. meski, hidup dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, ternyata mesti diselesaikan sendiri.. tak apa, meski salah sedikit
malam itu, ditemani Gori (boneka gorila hitaam yang tersenyum manis) dan segelas ice cream, berakhir dengan rasa haru yang menjadi-jadi.. sudah laruut, tak lupa juga sebagai penutup, saya panjatkan banyak-banyak rasa syukuur dan sudi kiranya Allah membalas kebaikan kakak saya, Si Bo! ku, alias mas heruu, sembari terisak menangis kecil..
meskipun kadang saya rewel, judees, childish, even selfish, saya benar-benar sayaang ke dia, dari dulu hingga kini, dan sampai nanti.. semoga Allah selalu menjaga dan mencintai kami, keluarga kami, teman-teman terbaik kami, amiin!
PS: makasiih Bo!, sudah menjadi inspirasi, dan penyemangat untuk bangkit kembali!