Sebuah Wacana
Beberapa pagi yang lalu, saat saya sedang dalam perjalanan ke kantor, ada seorang perempuan kecil yang membuat saya terbengong-bengong… dia memanggil saya “MAMA” dan menatap riang..
Diaam, senaang, dan berpikir dalam.. tercengang!
Apakah efek dari seragam kerja ya, atau emang muka saya yang boros dan nampak kayak emak-emak
.. uuhhmm, entahlah, yang jelas, sejak pagi itu, ada sebuah wacana yang sedang menyita perhatian saya..
Perempuan, menikah, dan mempunyai anak.. menjadi ibu, dan akan menjadi panutan.. sebuah pengalaman, yang sebagian besar diimpi-impikan.. saya pernah mendengar, salah seorang selebritis kita berpendapat.. tidak gampang menjadi perempuan, apalagi jika sudah mempunyai anak.. tidak sempat memanjakan diri sendiri, sehingga lemak tanpa sengaja sudah bertengger disana-sini..
Ego pribadinya, SEBAGAI IBU DAN ISTRI, mau tidak mau harus dikurangi. Ia harus mengurus rumah tangga, anak-anak dan suami. Meregang nyawa setelah 9 bulan berperut buncit, merelakan bentuk fisik yang melar karena habis melahirkan dan menyusui, menjadi pendengar saat anak gadisnya yang sudah menstruasi mulai berkenalan dengan lelaki, atau bahkan, rela dibohongi, hanya sekedar tak ingin membuat si bocah sedih dan merasa tak berarti.. manusia sejati, banyak hal yang mereka lakukan semata tidak untuk kepentingannya sendiri.. pantas bila Tuhan menaruh Surga di telapak kaki para perempuan-perempuan sejati tadi.. (merinding!)
Namun, lepas dari semua kebijakan yang para tetua berikan itu, tak ada salahnya bila si bocah dilibatkan dalam kehidupan yang serius.. Dalam artian, tidak selamanya anak itu bodoh dan tidak tahu apa-apa, mereka juga berhak berpendapat, dan menentukan sikap. Jangan hanya karena sang Ibu lebih dulu lahir ke dunia, dan sudah banyak makan garam kehidupan, lalu seenaknya saja menuduh bahwa merekalah yang berhak “menebak” kehidupan… jangaan!
Tahukah para ibu tentang sisi psikis anak, bahwasanya, mereka juga jengah bila selalu diremehkan. Bahwasanya, para anak-anak juga akan bertumbuh besar menjadi sosok pribadi yang dewasa, baik diberikan kesempatan atau tidak dari para orang tua, masalah waktu saja, sempat atau tidak memperhatikan ritme pertumbuhan anak mereka. sempat atau tidak, menjadi orang kepercayaan bagi anak yang mereka sayang. tidak sebatas pemberian materi yang banyak, lalu dibiarkan besar tanpa wejangan. Ya, kepercayaan. Ibu tidak sekedar menjadi sosok panutan, yang selalu dituruti dan di hormat, tapi juga seorang sahabat. Tempat yang selalu dituju karena nyaman.
Kembali ke wacana semula, saya mulai merasakan ritme kehidupan. Terbayang saat saya masih balita, menstruasi pertama tanpa didampingi Ibu tercinta, dan saya, yang sedang berpakaian seragam kantoran dan sudah berumur 24 sekarang. Uuufggh, waktu berjalan memang. Time goes fly. Kelak, saya juga ingin dipanggil MAMA, uhm, tepatnya, Bunda. Klise kaah, ya sudaah, tak apa. Sekedar berharap semoga tak salah. Kelak, saya juga ingin menjadi sahabat untuk anak-anak saya. Untuk menjadi panutan, masih terlalu dini untuk dikhayalkan.. Setidaknya, saya ingin jadi sahabat dulu deeh. Saya terlalu ingin mendengar curhat-curhatan yang keluar dari bibir mungil mereka.
Saya jadi teringat Dessy dan Riza, mantan murid privat B. Inggris duluu. Saat itu, mereka nampak begitu mempercayai saya untuk menceritakan apapun. Celoteh ringan mereka, sedihnya mereka saat dimarahin mama dan papanya, dan teman-teman sekolahnya yang nakal. Duuh, lucunya. Waktu itu sih inginnya punya adik kayak Dessy dan Riza, tapi sekaraang, pengen punya anak kayak mereka.. Riang, baik, dan pintar. Hehehe….
Saya tau, tidak segampang itu menjadi ibu. Banyak hal yang harus dipersiapkan, terlebih tentang mental. Semoga Allah SWT, senantiasa menemani setiap langkah. Semoga juga, saya selalu diberikan kesabaran, agar lebih mudah meninggalkan sifat temperamental. Last, but not least, berikan dulu saya pasangan. Yaaa, berdua denganmu, pasti lebih baik bukaan dalam menjalani kehidupan (mengutip OST. My Heart Cipt. Melly Goeslow) .. aku yakiin itu !
Sebuah Wacana, akan menjadi sebuah perenungan. Kehidupan itu, ternyata adalah proses pembelajaran yang ngga ada akhirnya. Ada saja hal-hal baru yang “datang” mendadak. Tak apa, saya toh tak bisa menolak, karena saya (masih) bukan Tuhan..
Salam hormat untuk para Okaa-San.. baik yang “sekedar” biologis, ataupun bukan.. Sungguh, kalian memang para perempuan hebat!
PS: Katur kagem Ibu.. For whatever reasons, I ALWAYS LOVE U, Mom

“Last, but not least, berikan dulu saya pasangan.”
Amiiin..
Comment by mbu — September 20, 2006 @ 2:19 am