Saya, masih kangen dengan mas Heru. Saya juga tau, sore tadii, Ibu sudah berusaha untuk membujuk. Ada banyak hal yang saya ingin ceritakan padanya, tentang seseorang di Jakarta, tentang skripsi dan perkuliahan saya, tentang saya yg sakit tapi ko malah ditinggal pulang, tentang apa saja’laah.. Tapii, semuanya itu ko malah ngga sempat saya ceritakan, karena sudah terlalu senang rasanya melihat ia dekat!
Saya dan mas Heru, terpaut usia 5tahun. Hoby baca, ngopi dan jajan makanan, sampe ngabahas hal-hal yg ngga biasa. Adaalaah, ngga perlu dipublikasikan. Kami sangat dekat, pernah ada seorang kerabat yang khawatir melihat kedekatan kami berdua. Bisa-bisa ga dapet pacar, wong beduaan terus katanya. Teman-temannya pun sempat keheranan melihat kedekatan kami berdua. Malahan, mantan pacar saya pun sempat protes karena merasa dicuekkin tiap kali kakak saya dataang. Teman-teman saya pun sudah cukup tau tentang jadwal saya yg tiba-tiba break sejenak, kalau alasannya sama. Wajaar, kebersamaan saya dengannya begitu terbatas. Dan saya, benar-benar ingin menikmatinya. Saya bisa meminta diantarkan kemana sajaa, bergelayutan di pundaknya, dan banyak cerita bila sudah bersamanya. Meskipun pun saya terkadang suka "melupakannya" sebentar bila sudah ada "pasangan", maafkan, kalau sudah berbuat curaang
Tempat fav. kami adalah toko buku QB. Pernah sekali mampir ke rumah kopi, dan hunting dvd/mp3 di kota kembang yg paling sering. kapanpun itu bersamanya, selalu saja ada perbincangan. Meski kakak saya itu memang introvet untuk beberapa masalah personal, semoga saja, dia mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk karier, kebahagiaan, juga jodoh yang baik dan layak untuknya, amiien.
And yet, yes, he’s my saviour. Dia ada, dalam setiap saat meski berjarak jauh. Rasa-rasanya, dia laki-laki yang terbaik dalam hidup saya. Selain menjadi seorang kakak, teman curhat, mentor sekaligus penyemangat, pendukung serta donatur keuangan, dia juga selalu sabaar dalam menghadapi saya. Dia selalu paham apa yang saya inginkan, meski tak selalu setuju dengan apa yang saya putuskan. Kalau sudah begitu, saya hampir-hampir sombong berkelakar. Cukuplah untuk saya, seorang mas heru, bapak dan ibu, serta para sahabat tersayang, yang saya perlukan dalam hidup. Pasangan hidup, merupakan suatu bonus, anugerah Tuhan yang tak tertebak selain rizki, hidup dan maut.
Sepulangnya mengantarkan dari bandara, Ibu mampir ke kamar saya. Mengosok lembut punggung saya, dan menanyakan demam saya. Tiba-tiba saja, saya menangis di pangkuan’nya. Saya tau, Ibu juga menahan haru. Suaranya tersendat-sendat saat sedang menghibur. Sepertinya, beliau tau betul tentang alasan saya menangis sore itu. Seakan tau alasan menangis saya selain karena mas Heru. Iyaa, ternyata Ibu sudah mendapati saya bersedih dari hari Jumat lalu. Tentang masalah komitmen saya laah, tentang saya yg menangis diam-diam di sebelahnya, saat saya berpura-pura tidur dengannya. Tentang saya yg mulai gelisaah saat hendaak tidur maalaam. Ibu, sepertinya bisa merasakan kesedihan saya. Dan Ibu, masih begitu baik dan sabaar, atas apa yang sudah saya lakukan terhadapnya. Semoga Tuhan melimpahkan berkah untuknya. Amiien.
Ingin saya bercerita, bahwa saya menangis karena masih kangen ke mas Heru ternyata. Saya bersedih, karena memang bermasalah dr hari Jumat. Saya sakiit, tapi saya bingung kenapa. But beyond of those reasons, saya sedih karena harus berpisah lagi dengan kakak saya. Tidak seperti biasanya, kali ini, saya benar-benar memerlukannya. Menghibur saya dari segala kesedihan beberapa minggu belakangan. Tapi waktu begitu cepaat. Saya belum smepat bercerita banyaak. Sakiit yang tidak menyenangkaan. Memaksa saya untuk diam dan berbaring karena lemas. Membuat saya, tidak bisa bercerita banyaak padanya.
Untuk mas Heru, maaf yaa, kalau sudah sangat sering merepotkan. Ini kali ketiga saya menangis terharu saat berpisah. Pertama, saat pertama kali kamu ke Jakarta. Kedua, setelah sakit di Borromeus itu, dan sekarang, saat saya sakit lagi, tapi parahnya, ngga ada kamu. Maaf, aku belum bisa membalas semua kebaikan kamu. Terimakasih, untuk segala sesuatu yang kamu beri, termasuk bonus transferan’mu :p .. Dan terimakasih, untuk masih dan selalu ada dalam berbagai masa kehidupan saya, apa dan kapanpun itu. Mungkin kedengarannya ko menye-menye buat kamu, tapii, kali ini serius! Love works in many ways dude!
ps: Makasii ya Bo.. U’re really my saviour!
