puisi ke 7
Tahukah engkau sebuah mantera
yang mampu mendatangkan keceriaan
dalam sekejap mata?
bukan Alakazam atau Abrakadabra
tetapi NAMAMU jelita
puisi ke 8
Kata Sang Bijak, mengalahkan nafsu adalah kemenangan utama
Kataku, mengalahkan rindu kepada kekasih adalah kemenangan sejati
Tapi untuk engkau yang kucintai apalah artiya menjadi pemenang
maka kubiarkan rindu menghempaskanku, demi engkau yang kusayangi
Mengalahkan rindu berarti membunuh cinta
matinya cinta pertanda punahnya jiwa
sirnanya jiwa memusnahkan kehidupan
Aku mendambakan kehidupan
maka kupelihara jiwa
kupelihara jiwa agar bisa kumiliki cinta
kumiliki cinta agar bisa kurasakan rindu
sebab rindu mendekatkan aku denganmu, kekasihku
Tak ingin aku kehilangan dirimu
sebab itu tak hendak aku mengalahkan rindu
puisi ke 13
karena kita sedekat kini
kutahu seberapa jurang hatimu curam landai
hati berhias guratan suka sedih
ia menawan, katamu suatu hari
laksana bulan berpoles mega tipis
pada malam berhujan gerimis
karena engkau belahan jiwaku
kutahu sebening apa mata hatimu
seumpama danau tenang jernih
tempat bidadari bersuci diri
air wangi puspa melati
karena aku “apa sajamu”
kutahu seberapa jauh impianmu
terombang-ambing bayu malam hari
dan luruh jadi serpihan larik puisi
maka kelak akan ku maklum
tatkala tiba waktu kau sambut diriku
sambil berujar: “aku bukan apa-apa
dan bukan siapa-siapa lagi bagimu
sama halnya kenyataan bahwa engkau
bukan apa-apa dan siapa-siapa bagiku”
aku dan engkau cuma kata-kata
yang mempermudah kita saling bercerita
saat engkau dan aku terpenjara
oleh raga yang berkuasa
atas ruang dan kala
** puisi dari Aloysius Ary, terimakasih, sudah boleh mengutip **
