November 30, 2008

Interesting Topic

Filed under: Uncategorized

          Mas Bli Gus pernah bilang, bahwa menikah itu seperti sekolah. Selalu ada masalah untuk menguji kita. Seperti orang naik kelas saja. Tapi toh menurut saya, tidak sesederhana itu ternyata. Perlu kompromi-kompromi lainnya dengan pasangan. Saling pengertian, komunikasi yang pas kadarnya, cinta yang berlebihan, dan juga keyakinan. Naaah, itu dia, iman dan mental yg masih "pas-pas" an, fluktuatif kadang, suka menjebak kita [baca saya], untuk jungkir balik jumpalitan, maju mundur ga karuan, ke kiri dan ke kanan, untuk sampai ke "tujuan". Saya masih belum punya cukup keberanian untuk mengumpulkan keyakinan. Mau sih mau menikah, niat juga laah, tapi kalo sudah ada pertanyaan KAPAN? Saya bisa saja mundur perlahan.. membalas dengan senyuman, atau diam.

          Ada juga yg enteng bilang .. "Ya kalo niat mah bisa kapan aja kan say?" .. Haaah, it’s not like her dream-like, it’s about "once that happening in our life time" .. Saya jadi tegang sendiri ni kalo sudah membahas "topik ini". Pasangan saya juga sudah wanti-wanti, jangan "terlalu keras berpikir", karena akan pusing sendiri. Hmm, bener juga siih, masiih banyak juga yg harus dipikiriin. Jadi inget lagi teman saya, banker juga, dia bilang,  some say that love could grow after we’re married, but it’s not happened on me. So make Ur own reason Re chan, better if it’s love. Yaa, akan kembai lagi ke "alasan utama itu" lagi ternyata. CINTA.

          Perjalanan cinta itu juga kadang membuat suatu efek samping yg berkepanjangan. Satu *ilusi pernikahan* [mengutip istilah seorang teman baik yg mempunyai ide brilian] akan menjadi sebuah pilihan. Menyajikan banyak impian, yang belum tentu menjanjikan kebahagian. Iyaa, memang tidak melulu tentang kebahagiaan, tapi ilusi itu tetap menjadi favorit banyak pasangan [termasuk saya] karena bersemangat kalo ingat dengan slogan "Life is beautiful if we know how to make it beautiful" .. Optimis saja, daan senyum saja, meski hampir mampus rasanya. Hahahaha :)

          Dan tentang pasangan. Dua yang akan menjadi satu nantinya. Satu yang akan menjadi selamanya. Berharap tidak ada yang "mati" dalam perjalanannya. Cinta juga sebaiknya saling melengkapi kan, tidak memaksakan kehendak karena sudah berstatus memiliki. Membolehkan berkreasi, mempunyai ruang gerak dan ranah pribadi karena sadar betul bahwa pasangannya adalah manusia normal yang perlu bersosialisasi yg tidak hanya melulu melayani pasangannya sendiri. Tentunya, berporsi. Ada sistem kausalitas dan skala prioritas, somehow, somewhere, within both of Us and them. Semoga, sisa waktu yang ada cukup maksimal untuk mengambil keputusan. Berdoa untuk sebuah kebaikan, kebenaran, juga tentang kebahagiaan. Dan, kepastian!!! Tuhan masih hapal betul tentang doa dan segala harap saya, semuanya, semoga dikabulkan.

      

** Pernikahan, suatu pilihan fatalistik yang brilian **

- menurut kalian ? -

 

      

        

     

 

 

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://cantikceniq.blogsome.com/2008/11/30/interesting-topic/trackback/

  1. * Illusi Pernikahan *

    Pada umumnya kita memasuki mahligai pernikahan dengan satu ilusi, yakni bahwa kita merupakan pasangan yang serasi. Setelah bertahun-tahun menikah berulah kita menjadi tidak cocok karena perbedaan-perbedaan yang kita miliki.

    Sesungguhnya kita memulai pernikahan dari ketidakserasian dan bukan dari keserasian. Tugas kita justru adalah menyerasikan diri dengan pasangan kita dan proses ini berlanjut terus menerus. Keserasian yang kita nikmati pada kurun pranikah sebenarnya sebuah ilusi belaka dan bersifat dangkal. Tersembunyi di dalam hati kita dambaan yang pada intinya bersumber dari kebutuhan-kebutuhan pribadi. Misalnya kita beranggapan (dan berharap) bahwa pasangan kita mengerti (dan akan terus mengerti) kita. Sewaktu kita sedih, ia langsung dapat memahami kebutuhan kita akan sentuhan yang sensitif dan penghiburan yang hangat. Pasangan kita adalah orang yang paling tepat karena menurut kita ia dapat memenuhi kebutuhan itu. Ini ilusi. Pernikahan itu sendirilah yang akhirnya akan membangunkan kita dari ilusi. Sewaktu kita menyadari betapa banyaknya perbedaan di antara kita, yang terjadi bukanlah karena kita semakin menjadi tidak serasi, melainkan karena kita semakin dihadapkan kepada realitas kehidupan itu sendiri. Memang kita tidak serasi karena kita adalah dua manusia yang berlainan. Tugas utama kita dalam pernikahan ialah belajar menyerasikan diri dan ini harus dilakukan berulang kali.

    Kita tidak dengan sengaja menciptakan ilusi pernikahan tetapi umumnya terperangkap masuk ke dalam ilusi. Alasannya sederhana sekali. Kita adalah makhluk yang berhasrat dan semua hasrat kita bermuara ke satu titik, yaitu: kebahagiaan. Apabila kita mengumpamakan hidup ini sebuah buku yang sedang kita tulis, kita berharap setiap lembaran yang baru akan lebih baik daripada lembaran sebelumnya. “Lebih baik” biasanya bermakna lebih bahagia atau lebih memuaskan kebutuhan kita. Oleh sebab itulah pernikahan mudah-mudahan merupakan lembaran hidup yang lebih baik atau lebih membahagiakan. Siapa yang mau menikah kalau tahu bahwa pernikahan itu akan menyusahkan?

    Jadi, apa pentingnya seorang pasangan? Seseorang harus bisa menjadi sahabat bagi pasangannya, orang yang mendampingi, menguatkan dan melengkapi.

    ~A~

    Comment by Aloysia — November 30, 2008 @ 8:56 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>